Praktik Baik Numerasi di Sekolah: Taman Numerasi, Permainan Tradisional, hingga Pojok Kreatif - POKJAR KRIDATAMA PKBM KRIDHA WIYATA

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Kamis, 04 September 2025

Praktik Baik Numerasi di Sekolah: Taman Numerasi, Permainan Tradisional, hingga Pojok Kreatif

Praktik Baik Numerasi di Sekolah: Taman Numerasi, Permainan Tradisional, hingga Pojok Kreatif


Jakarta, 19 Agustus 2025 – Gerakan Numerasi Nasional Resmi Diluncurkan

SD Negeri Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta, menjadi lokasi peluncuran Gerakan Numerasi Nasional (GNN) yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini hadir untuk menumbuhkan budaya numerasi sejak dini dengan pendekatan yang menyenangkan, kreatif, dan kontekstual. Tujuannya, anak-anak Indonesia tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, serta adaptif dalam kehidupan sehari-hari.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya membangun kecintaan terhadap numerasi. “Matematika harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan agar anak-anak merasa dekat, bukan terbebani. Kebiasaan menggunakan angka, membaca data, hingga memahami konteks sehari-hari perlu ditanamkan sejak dini,” tegas Mendikdasmen.

Taman Numerasi: Kreativitas Guru Ciptakan Lingkungan Belajar Menarik

Kepala SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Tri Susilawati, memaparkan bagaimana sekolahnya menghadirkan Taman Numerasi sebagai ruang belajar alternatif. Taman ini dihiasi dengan angka, pola, dan permainan sederhana di lantai maupun dinding, sehingga anak-anak dapat belajar Matematika di luar kelas dengan cara yang lebih menyenangkan.

“Dengan Taman Numerasi, siswa tidak merasa bosan. Mereka bisa belajar sambil bermain, sementara guru lebih mudah menghadirkan pembelajaran yang kreatif,” jelas Tri. Ia berharap pendekatan ini mampu menghapus anggapan bahwa Matematika adalah momok menakutkan bagi siswa.

Permainan Tradisional Sebagai Media Numerasi

Dari SDN Tugu Selatan 03, guru Nilam Sarmaria memanfaatkan permainan tradisional seperti congklak dan dempla. Melalui permainan tersebut, siswa belajar menghitung, menentukan nilai tempat, dan melatih logika secara alami. “Numerasi bisa terhubung dengan budaya lokal sehingga anak-anak merasa lebih dekat dengan pembelajaran,” ungkap Nilam.

Pojok Numerasi dan Inovasi Lintas Mata Pelajaran

Guru SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Vita Krisnasari, menambahkan bahwa sekolahnya juga mengembangkan Pojok Numerasi. Konsep ini menghadirkan sudut khusus yang dipenuhi media numerasi dan bisa dimanfaatkan dalam berbagai mata pelajaran, bukan hanya Matematika. “Numerasi harus lintas bidang agar anak-anak terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dari Kepulauan Seribu, guru Hidayat di SDN Pulau Kelapa 02 Pagi mencontohkan bagaimana numerasi bisa diajarkan dalam situasi nyata. “Saat anak jajan, kita ajak mereka membaca kandungan gizi di bungkus makanan. Dari situ mereka belajar menghitung, menganalisis, dan memahami informasi,” jelasnya. Ia menekankan bahwa suasana belajar yang ramah dan menyenangkan adalah kunci agar siswa tidak lagi takut dengan Matematika.

Harapan untuk Masa Depan Numerasi Indonesia

Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional di SDN Meruya Selatan 04 Pagi menjadi simbol awal membangun budaya numerasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan praktik baik yang dilakukan guru, dukungan orang tua, serta keterlibatan komunitas, GNN diharapkan mampu mencetak generasi Indonesia yang lebih cerdas, tangguh, dan melek numerasi.

Baca Juga

Meta Description

Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional di SDN Meruya Selatan 04 Pagi hadirkan praktik baik numerasi: taman numerasi, permainan tradisional, hingga pojok numerasi. Upaya ini membangun budaya Matematika menyenangkan bagi anak Indonesia.

Sumber : Direktorat Guru Pendidikan Dasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages